Siapa sih Wendy sampai jenazahnya disemayamkan di FKUI? Dilepas oleh Menteri dan Dekan FKUI?
Saat saya praktek, begitu menerima SMS tentang hilangnya Wendy di perairan Papua saya langsung lemas, untuk beberapa saat saya minta suster untuk menghentikan praktek. Pikiran pikiran buruk mulai melayang2 dalam alam maya saya. Esoknya ternyata diterima kabar Wendy telah ditemukan dalam keadaan telah almarhum.
Saya yakin, jika temanteman yang mengenal Wendy ditanya tentang sosok seorang Wendy, maka jawabannya adalah baik dan pendiam. Mau “dikorbankan” apalagi jika harus dipasang jaga dengan konsulen jaganya “mami”, Weice---kadang kadang saya menyebutnya----pasti akan menerima tanpa protes. Atau saat harus stase di onkologi sendirian, dan sempat bikin dr. Mirza ketarketir –hayo ngaku---. Pembawaannya yang tenang ini mungkin membawa dampak baik saat ia harus stase 2C di IGD. Setiap harus laporan jaga UPI, pasti pasiennya juga tenang. laporan jaga aman, chief tenang. Tenang tenang menghanyutkan ini dibuktikan juga dengan kesuksesannya sebagai Ketua Malam Musik Klasik FKUI.
Wendy yang idealis, lebih senang mengabdi di Mimika daripada pulang ke Jakarta. Bahkan saat upacara pelepasan Obsgyn, saat-saat yang bersejarah bagi para lulusan obsgyn baru pun Wendy tidak bisa datang dari Papua dan diwakili oleh Lydia, istrinya. Terakhir bertemu almarhum di Balikpapan tahun lalu. Saya mengajaknya untuk kembali bekerja di Jakarta dan sekitarnya. Tapi Wendy bersikeras, bahkan ia akan memboyong Lydia istrinya untuk mengabdi di Mimika. Ia menawari saya untuk ke Papua saat berlangsungnya Festival Budaya Asmat. Tawaran yang kebetulan karena saya memang berniat merambah Merauke sebelum Wendy kembali ke Jakarta--karena pernah nyentuh Sabang, rasanya tidak afdol kalau tidak sampai ke Merauke.
Kami juga iseng menebak nebak, jangan jangan almarhum menjadi korban karena mendahulukan orang lain? Ternyata kabar yang saya terima, Wendy sempat memakaikan pelampung kepada penumpang lain, sementara ia tidak kebagian pelampung. Ironis memang, salah satu potret palayaran yang kocar-kacir di negeri ini. Keamanan penumpang adalah nomor sekian. Nyawa rakyat kecil sudah tidak artinya di republik ini. Sudah berapa banyak kecelakaan terjadi tapi hal itu tidak menjadikan peringatan bagi instansi yang berwenang untuk memperbaikinya.
Keberanian teman-teman kami untuk mengabdi di daerah terpencil meruntuhkan rumor yang beredar bahwa lulusan FKUI tidak mau terjun ke Indonesia Timur atau lulusan FKUI tidak mau bertugas di daerah terpencil. Banyak lulusan FKUI yang bersedia mengabdi dari ujung Barat Indonesia –tanya Mbak Pipi ---sampai ujung Timur negeri ini. Dari ujung Utara ---tanya Tofan ----sampai ujung Selatan ---tanya Yulius. Bahkan, Fara saja mau ditempatkan di pelosok Gayo luwes --lho?kok patokannya Fara ya? ---Setidaknya hal ini lebih baik, daripada serombongan orang yang lebih senang hijrah untuk mengabdi di daerah….khusus ibukota, dibandingkan mengabdi disekitar tempat almamaternya, yang sudah jelas lebih membutuhkan.
Sudut lain yang menggelitik saya adalah blow out pemberitaan media. Berapa banyak media massa yang memberitakan kabar pengorbanan seorang dokter?. Bandingkan dengan porsi mereka, saat memberitakan seorang dokter atau rumah sakit dikatakan malpraktek---walaupun tidak terbukti malpraktek? Bandingkan juga antara pemberitaan rumahsakit yang “menyandera” pasien karena tidak bisa bayar dengan pemberitaan “dokter (baca: residen)” yang setiap harinya harus membayari pasien? Karena dana Jamkesmas tidak kunjung cair? Karena sulitnya mengurus askeskin ?
Kepergian seorang teman ini juga menjadikan renungan bagi kita, bahwa umur ada di tangan Sang Pencipta. Manusia hanya memainkan sebuah babak kehidupannya di dunia fana, babak lain menanti, di dunia yang lain. Sayang kita tidak pernah (memper)siap(kan),meskipun kita compos mentis dan tahu bahwa kematian menjadi pelajaran yang nyata.
Di kalangan FKUI , Wendy memang tidak setenar Tompi atau sengetop Sonia Wibisono. Tapi hari ini, keharuman namanya tidak kalah dengan mereka berdua.
Lihat links lain disini